Jujur, gue heran sama film horor Indonesia.
Film-film horor lokal yang biasa gue liat itu cuma film penuh jerit-jerit tanpa plot dan setan-setannya kayak lagi main cilukba. Bentar muncul, bentar ilang (malahan kadang dibombastiskan dengan adegan si setan ngilang, terus muncul lagi dari balik pintu, ilang lagi, terus nongol dari dalem jamban).
Udah gitu, judul-judulnya aneh pula. Ada Tali Pocong Perawan lah, Bangku Kosong lah, Tiren (Mati Kemaren) lah, bahkan baru- baru ini gue denger ada film horor baru yang ga boleh beredar, judulnya kalo gak salah, Pocong Datang Bulan. Hah? Pocong Datang Bulan? Gue gak bisa ngebayangin pocong (yang wanita, tentunya) males diajakin temen-temennya shopping karena lagi PMS, terus minum Kiranti Sehat Datang Bulan... Dan pacarnya si Pocong-betina-datang-bulan ini jadi males ngajak malam jumatan (malem mingguannya makhluk halus itu malam jumat, right?) karena si pocong wanitanya sering bete... Aduh please deh, film macam apa itu? Jangan-jangan nanti malah ada sekuelnya yang judulnya Pocong Menopause.
Nah, makanya gue gak pernah takut sama gitu-gituan.
Kayak waktu itu tuh. Waktu itu gue lagi di BMS (Batu Night Spectacular), Malang. Tempatnya semacam dufan mini. Gue diajak om gue, om Totok, ke rumah hantunya. Jadilah kita ber-empat (gue, Om Totok, Tante Anita dan seekor anak tengil, alias adek gue) beli tiket di loketnya. Kata mas-masnya, si penjaga tiket, "Mau yang naik kereta atau jalan? Harganya sih sama, pak."
"Hmmm," sahut om gue. "Bedanya apa mas?"
"Yang jalan sih lebih serem." Jawab si mas-mas loket.
Akhirnya kita sepakat pilih yang jalan kaki, walaupun tante Anita agak ga setuju. Tante Anita sempet parno sendiri.
Gue menenangkan tante Anita. "Tenang, tante," ucap gue sotoy, dengan pengetahuan gue yang dangkal. "Gak seserem itu sih, kayaknya. Kata mas-nya kan yang jalan lebih serem. Nah, rumah hantu ini kan ada dua kategori! Gak Serem Sama Sekali dan Gak Serem! Berarti yang jalan ini termasuk kategori Gak Serem!"
Ternyata, gak ngaruh.
Tante Anita tetep keukeuh gak mau masuk walaupun udah beli tiket. Akhirnya, cuma gue, om Totok dan si tengil yang masuk ke rumah hantu.
Isinya sih gak gitu serem. Cuma patung-patung setan standar: vampir, kuntilanak, pocong, dsb. Gerak-geraknya juga rada kaku, tapi si Indy malah ketakutan gak jelas gitu. Si Indy malah jalan dengan mata tertutup, saking takutnya (walaupun dituntun om gue, sih). Tinggal dikasih kacamata item gede ala film-film jadul (catatan: bukan film jadul keren kayak Breakfast at Tiffany's, melainkan film jadul cupu tapi sok gaul kayak Catatan Si Boy) plus tongkat, jadi deh tukang pijet keliling.
Eh, di dalem, ketemu Om Anto. Gue sempet mikir aneh-aneh: apakah benar ini Om Anto? Mungkin saja ini om Anto palsu. Ah, tidak. Diameter perutnya sama besarnya seperti biasa, berarti ia om Anto asli (karena tak seorangpun yang bisa men-duplikat perut om Anto, luar biasa).
Dan, kedatangan om Anto malah membuat suasana makin gak serem, jauh dari harapan "rumah hantu yang bener-bener spooky dan bikin merinding" yang ada malah "rumah hantu dengan hantu-hantu cacat habis nabrak pohon yang bikin ilfil sendiri".
Contoh: kita sampe di area yang isinya bangku-bangku kosong mengitari meja makan bergaya Eropa, bangku-nya maju mundur sendiri dan cangkir-cangkirnya terangkat sendiri. Gue bergumam pelan, "cara kerjanya gimana, ya?". Om Anto nunjuk ke bawah meja dan bilang, "tuh ada stop kontaknya." Bener-bener bikin suasana jadi gak horror. Om Totok sampe bilang, "Anto ah! Jadi ga serem tau!"
Gitu deh, akhirnya trip kita di rumah hantu cuma terisi oleh kritikan tak berbobot seperti, "eh, mayatnya ga bangun-bangun sih" dan "pocongnya kok geser-geser doang ya, harusnya kan lompat" atau hinaan tak berprikehantuan seperti "ih, suter ngesotnya kayak gembel kelindes kereta mencoba senam aerobik".
Dan, klimaks dari seluruhnya ada di bagian ini. Kita sampai di belokan lorong (bentuk rumah hantunya lorong-lorong, terus sampe di area yang agak besar, lorong lagi, dst) dan di samping kanan kita ada cermin. Om Totok, yang dari tadi terus mengomentari dengan ejekan dan nada meremehkan, tiba-tiba TERIAK KENCENG BANGET sampe gue ikut teriak, nyambung ke om Anto, dan Indy ikutan teriak. Kita jadi seperti anak cewek, dua ekor sapi dan cacing tanah yang idiot semua berbaris dan mencoba menyanyikan bagian "HALO!" di lagu Halo Walking On Sunshine versi Lea Michelle-nya Glee.
Dan mau tau Om Totok teriak karena apa?
OM TOTOK TERIAK KENCENG DENGAN VOLUME NAUJUBILE KARENA MELIHAT PANTULAN WAJAHNYA SENDIRI DI CERMIN!
Om Totok akhirnya cuma bisa berkata dengan sedih, "ternyata wajahku lebih serem dari setan-setan yang tadi, ya?"
*ngik*
Selesai
Jumat, 11 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)